Posted by: girls87 | February 28, 2011

[FF] Godess Eps. 1

Author : Kimo Youki
main Cast : Shinee’s All Member

Sejak 2 abad yang lalu. Warga kami meyakini adanya makhluk tingkat atas dan hari kebangkitan SHINee. Makhluk yang telah menyelamatkan peradaban manusia dari kehancuran. Mereka juga meyakini, bahwa di hari itu, mereka harus mengorbankan 5 manusia. Bukan manusia biasa. Mereka yang dikorbankan hanyalah gisei mereka yang terpilih oleh sang SHINING. Hari kebangkitan itu di peringati setiap matahari bersinar paling terang dan memancarkan sinar sedikit kemerahan. Setiap hari itu datang, seluruh umat manusia akan memberikan sesaji yang banyak. Tidak lupa dengan gisei sang terpilih.

Aku datang di dunia ini setelah 1 abad berlalu dari masa penyelamatan itu. Tapi, yang aku tahu, adat pemberian korban itu masih ada. Bahkan, ada yang lebih mengerikan. Gisei akan diberi tantangan-tantangan terlebih dahulu sebelum mereka terpilih. Tantangannya tidaklah mudah. Bahkan, banyak dari mereka yang mati.

Kisah itu diceritakan secara turun-temurun oleh nenek moyang. Ibuku kerap sekali menceritakannya padaku. Katanya, “ Persiapan untuk masa depan. Kalau-kalau kau akan terpilih menjadi gisei.” Berulang kali ibu berkata begitu. Membuat bulu kudukku meremang.

Sesekali aku bertanya kepada beliau. “Bu! Apakah ibu siap kehilangan aku suatu saat nanti?”

“Kalau itu memang sudah kehendak dari SHINING, ibu akan merelakanmu.” Aku sedikit kecewa pada ibu. Tapi tidak apa-apa. Aku tahu ibuku masih termasuk orang yang kolot. Karena beliau lebih mementingkan Mereka daripada aku. Seketika itulah, kebencianku pada para SHINING amatlah besar. Tanpa bisa di bendung lagi. Aku benar-benar membenci mereka.

***

Tahun ini adalah tahun baru. Dimana tahun ini umurku akan menjadi 17 tahun. Desa tempat tinggalku masih damai-damai saja. Semua warga masih melakukan rutinitas seperti biasa. Pergi ke sawah, berkebun, dan menenun. Keluargaku adalah petani biasa. Setiap pagi, aku membantu ibu ke sawah. Ayahku? Entah dia di mana. Dan aku tak peduli.

Desaku adalah desa yang rindang. Desa yang sangaon, belum satu pun dari warga desa kami yang menjadi gisei. Mungkin karena warga dari desa kami terdiri dari wanita. Sulit bagi wanita untuk bias lulus dari test itu.

Desa wanita dan desa pria terpisah. Desa pria ada di sbelah desa wanita. Tinggal menyeberangi hutan, maka akan tampak pemukiman mereka. Alibiku, ibiku menikah dengan seseorang di sana dan setelah aku lahir, ayahku tidak mau merawatku. Itu masih alibiku. Ibuku selalu menghindar setiap kutanya tentang ayah. Sesuatu yang membuatku semakin ingin tahu.

Hari ini, aku sedang membantu ibu menanam padi di sawah. Pagi yang sanagt cerah. Teriknya membuat keringat semakin mengucur. Kuusap peluh yang mengalir di dahi.

“Kamu capek nak?”

“Nggak kok buk. Aku masih kuat. Nih…” kutanam padi itu dengan kecepatan penuh. Sampai-sampai, keseimbanganku hilang dan akhirnya terjatuh. Ibu tertawa melihat tingkahku. Aku Cuma garuk-garuk kepalaku tolol.

“Kamu ini ada-ada aja nak. Kamu nggak perlu ngebuktiin sampai kayak gitu. Yang kena kamu sendiri kan.”

“Nggak apa-apa kok buk. Nggak sakit. Beneran nggak sakit.”

“Siapa juga yang Tanya? O iya. Peringatan hari SHINee diadakan tepat di hari ulang tahunmu lho.”

“O ya?” tanyaku lemas.

“Iya. Bagus kan. Itu tepat kamu berumur 17 tahun. Bukankah itu sangat menarik?”

“Ya…ya… sangat menarik. Yah…sangat menarik.” Kata-kataku terdengar hanya seperti bisikan. Bias dibilang. Aku berbicara pada diriku sendiri.

“Hari sudah mulai siang. Sebaiknya kita pulang sekarang.”

Aku menurut. Pulang dengan kepala tertunduk lemas. Aku benci. Kenapa setiap tahun harus terulang hal yang sma persis. Hal yang paling kubenci di dunia ini. Sudah cukup aku membenci ayahku. Kenapa masih ada hal yang harus kubenci lagi. Adakah hal lain lagi yang harus kubenci? Karena jawabannya, aku pasti menolak. Aku tidak kuat jika lebih banyak lagi.

***

Keesokan paginya. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Saatnya untuk pergi ke sawah. Sepertinya, aku bangun lebih dahulu daripada ibu. Aku akan membangunkannya. Kuhampiri ranjang yang berada tak jauh dari tempatku. Rumah kami tak besar. Dinding dari kayu dan beralaskan tanah. Tak ada sekat untuk memisahakan antar ruangan. Tak ada listrik. Kami masih mengguanakan penerangan seadanya.

“Bu…Ibu…ayo bangun. Kita harus pergi ke sawah sekarang.” Tak ada jawaban. Ibu juga tak bergeming dari tidurnya. “Bu…Ibu ikut ke sawah atau tidak?” kuulangi membangunkan ibu. Masih tak ada jawaban. Kucoba memegang dahi ibu. “Astaga!” badan ibu panas banget. Kenapa ibu tiba-tiba sakit? Perasaan, kemarin ibu sehat-sehat saja. Ah, bukan waktunya berpikir. Aku segera pergi ke belakang untuk mengambil air dan kain. Kukompres dahi ibu. Hari ini kuputuskan untuk tidak pergi ke sawah dulu. Lebih penting kesehatan ibu daripada sawah.

“Uhuk…uhuk…” ibu mulai tersadar dengan terbatu-batuk.

“Ibu.ibu sudah sadar? Ibu nggak apa-apa kan.kenapa ibu bikin Youki khawatir?”

“Uki. Sekarang jam berapa? Bukannya ini waktunya ke sawah. Ibu akan siap-siap.” Ibu akan bangun dari bebaringnya, tapi aku segera mencegahnya.

“Ibu masih sakit. Hari ini ibu harus istirahat.”

“Kalau begitu, kamu harus ke sawah. Periksa padinya.”

“Trus, siapa yang akan merawat ibu? Aku tidak tega meninggalkan ibu sendiri di rumah.”

“Ibu tidak akan apa-apa nak. Cepat kau ke sawah.” Tidak mendapatkan respon dariku. Wajah ibu mulai mengeras. “Cepatlah!”

“Baiklah aku akan ke sana.”

Aku mempersiapkan alat-alat dan segera pergi ke sawah. Pikiranku melayang tak karuan. Padiku entah jadi apa. Karena, aku hanya menancapkannya tanpa tenaga. Bagaimana kalau ibu butuh minum? Bagaimana kalu ibu kesakitan? Bagaimana kalau ibu membutuhkanku? Pertanyaan-pertanyaan tak nyaman mulai mengelilingi benakku. Menyadari aku tidak bekerja sepenuh hati, aku segera kembali ke rumah. Tidak segan-segan, aku berlari. Semua orang yang mengahalangi, aku tabrak. Terlihat wajah kesal di mereka dan mulai mengumpat padaku. Masa bodoh. Bagiki yang paling penting sekarang adalah ibu. Tak masalah jika aku dibenci orang satu kampung.

Akhirnya samapai rumah juga. Kubuka pintu rumah dengan paksa. Sebelumnya, aku berfikir. Ibu pasti marah aku pulang awal. Tapi aku salah. Ibu sudah terbaring di bawah dengan keadaan kepala luka karena terbentur sesuatu. Pasti kursi.

“Astaga Ibu…Ibu…bangun.” Kuangkat badan ibu. Berat. Akhirnya agak ku seret tubuh ibu kembali ke ranjang. “Ibu…Ibu…Ibu bangun.” Aku tersadar. Benar. Perban. Dimana aku meltakkan perban. Tenang. Jangan panik. Akhirnya kutemukan perban itu. Kuperban kepala ibu setelah kubersihkan sebelumnya. Ibu belum juga sadar. Wajahnya yang putih, terlihat semakin pucat. Bibirnya kering dan keningnya terus berkeringat dingin. Ibu…kenapa ibu jadi seperti ini? Terus kupandangi wajah ibu. Hingga akhirnya aku terlelap di sebalah ibu.

***

Aku terbangun lagi di waktu subuh. Ibu masih tidak bergeming dari ranjangnya. Wajahnya bahkan semakin bertambah pucat. Bibirnya terlihat pucat dan pecah-pecah. Kuletakkan tanganku di dahi ibu untuk memeriksa suhu tubuhnya. Astaga! Semakin panas. Apa yang harus aku lakukan? Tidak ada uang untuk memamnggil tabib. Ini belum waktunya panen. Bagaimana aku bisa menyembuhkan ibu kalau begini? Aku harus pergi kemana untuk mendapatkan pertolongan?

Akhirnya, kuputuskan untuk mencari bantuan. Pilihan yang sulit bagiku. Berat rasanya meninggalkan ibu di rumah sendiri dengan keadaan seperti ini. Aku berlari kesana kemari. Mengetuk pintu rumah satu persatu. Tapi, mereka semua menolak untuk membantuku. Aku lelah. Dan sekarang, yang aku lakukan hanya duduk-duduk lesu di pinggir sawah.

“Uki, kamu sedang apa di sana?” Sica berteriak dari kejauhan. Dia datang dengan dengan Sine. Mereka adalah sahabatku dari desa sebelah.

“Aku juga tak tahu harus berbuat apa?” jawabku lesu ketika mereka sudah mendekat.

“Memang, apa yang sedang terjadi? Kenapa wajahmu terlihat begitu lesu?” sekarang ganti Sine yang bertanya.

“Ibuku sakit berat. Tidak satu pun orang yang mau membantuku. Aku harus bagaimana?” aku mendongakkan kepala yang semula menunduk untuk meminta jawaban.

“Mungkin di desa kami ada yang mau membantu. Kita ke sana?” Sica meminta persetujuan.

“Tapi, apakah ada? Aku rasa itu terlalu mustahil.” Sine bingung. Dia adalah orang yang memiliki kepercayadirian rendah.

“Kenapa kita harus takut gagal kalau kita belum mencoba? Cobalah dewasa Sine. Kita itu bukan sedang meminta emas, tapi kita minta pertolongan. Kau mau kan Uki?” Sica memberikan wejangan pada Sine.

“Pasti. Aku akan tetap mencoba. Walau kemungkinannya hanya 0%. Dan aku akan membuatnya menjadi 50%. Kemungkinan itu pasti ada.” Jawabku penuh dengan api semangat yang membara.

“Ya…ya…ya… terserah kalian. Aku ngikut kalian saja.”

“Begitu dong.” Sica setuju. Dia memang seorang sahabat yang perfect. Dia selalu bias membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Aku bangga mempunyai sahabat seperti dia.

Kami semua pergi dari desa ke desa. Dari rumah ke rumah. Peluh sudah berkucur di dahiku. Apakah mereka semua tidak punya hati nurani? Kenapa hanya sekedar menolong saja tidak bisa? Aku sangat kecewa. Karena kemungkinan yang 0% tetap menjadi 0%. Rasanya airmataku ingin jatuh. Tapi, aku tak akan mengeluarkannya. Air mata tak akan pernah menyelesaikan masalah.

“Kau kenapa? Kemarilah…” Sica menarikku ke dalam pelukannya. “menangislah… menagis bukanlah hal yang salah. Keluarkanlah… ini bukan masalah harga diri lagi.” Kata Sica sambil mengusap-usap punggungku. Tak terhankan lagi. Air mataku mulai jatu satu-satu, kemudian menjadi banjir air mata. Aku tak tahan lagi. Apa yang harus aku lakukan?

“Uki, kamu cengeng banget sih. Gitu saja nangis.” Ejek Sine. Memang temanku yang satu ini agak keras orangnya.

“SINE! Bukan masalah atau tidak. Ini sudah menyangkut perasaan. Kamu punya hati atau nggak sih?” bentak Sica. Sine Cuma bisa diam saja setelah dibentak oleh Sica.

“Kalian jangn bertengkar. Ini memang sudah nasibku mendapat cobaan seperti ini. Bukan salah Sine berkata seperti itu. Dan… terimakasih Sica. Kau memang yang terbaik.” Aku melepaskan diri dari pelukan Sica dan berjalan menjauh. Aku harus cepat kembali ke rumah. Ibu tidak ada yang menemani. Lama kelamaan aku jadi semakin berlari kencang. Air mataku juga belum mongering. Malah semakin banyak karena aku tidak bisa berhenti menangis. Kubuka pintu dengan perlahan sesampainya di rumah. Ibu terlihat seperti patung yang ditidurkan di atas ranjang. Diam dan tidak bergeming sedikit pun. Aku mengambil kursi untuk duduk di sebelahnya. Kugenggam tangan ibu dan mulai berdoa. Air mataku masih tidak mau berhenti. Terus menetes.

“Uki…” seperti ada suara yang memanggilku. Tapi, aku tetap memejamkan mata dan terus beroa. “Uki…kenapa kamu menagis nak.” Ternyata yang aku dengar tadi tidak salah. Ibu sudah sadar. Masih terlihat pucat. Tapi, hey, ibu sudah membuka matanya.

“Ibu? Ibu sudah sadar? Ibu…jangan bikin aku khawatir dong. Kenapa nggak sejak kemarin ibu sadar? Ibu tau nggak betapa khwatirnya aku? Ibu tau nggak…..”

“Uki…” panggilan ibu menghentikan ocehanku. “Ibu ngga apa-apa nak. Tapi, ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan sama kamu.”

“Nggak. Sekarang ibu harus istirahat dulu. Ibu masih terlalu lemah untuk bicara. Sekarang ibu harus tidur.”

“Nggak bisa nak. Ibu harus bicarakan ini sekarang.” Kalau sudah ngotot begini, nggak ada yang bisa ngehalangin ibu.

“Baiklah. Tapi, cuma sebentar saja. Kalau lama, aku nggak mau dengar lagi.” Ibu Cuma mengangguk menurut.

“Perlu kamu tahu. Ayah kamu itu masih hidup.” Mendengar perkataan itu, aku benar-benar terkejut. “Dia tinggal di tengah hutan di sebuah gubuk kecil. Kamu harus tinggal bersamanya. Ibu tidak mau kau tinggal di sini lagi”

“Alasan seperti apa itu? Aku tidak akan meninggalkan ibu dalam keadaan seperti ini. Aku tidak akan pergi.”

“Asal kamu tahu saja. Ibu sudah capek merawat kamu. ibu sidah tak sanggup lagi untuk menanggung kamu tinggal di sini. Jadi sekarang, sebaiknya kamu pergi ke tempat ayahmu. Ngerti?”

“Owh… jadi kenyataannya selama ini itu seperti itu? Aku nggak nyangka. Ternyata aku hanya beban dalam keluarga ini. Jadi, nggak ada gunanya lagi aku tinggal sama ibu.” Aku segera berlari keluar menuju hutan. Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan sahabat-sahabatku lagi. Ternyata, tadi mereka mengejarku. ,mereka terlihat khawatir sekali.

“Kau mau kemana?” Tanya Sica singkat, tapi syarat kekhawatiran.

“Aku mau ke tempat ayahku. Di tengah hutan”

“Kami ikut.” Kata sika singkat dan membuat Sine langsung melotot. “Ayo kita pergi sekarang!”

Akhirnya, kami berlari bersama. Manyusuri hutan. Mencari-cari, dimana gubuk ayah berada. Sulit menemukan sebuah gubuk kecil di tengah hutan seperti ini.

“Kayaknya…itu seperti gubuk.” Sine menunjuk bangunan kecil, reyot, dan terbuat dari kayu. Apakah ini benar tempat tinggal Ayah? Batinku. Kami mendekati gubuk itu. Semakin dekat, bangunan itu semakin terlihat mengerikan. Bangunannya sangat tertutup, sehingga di dalamnya terlihat gelap dari luar. “kok serem sih?” kata Sine lagi dengan nada ketakutan.

“Ayo kita masuk!” ajakku tanpa peduli dengan ketakutan Sine. Tapi, toh akhirnya mereka mengikuti aku juga. Kubuka pintu itu perlahan. Seakan pintu itu bisa roboh kapan saja jika kusentuh. Ugh… udara di dalam sangat pengap. “Uhuk…uhukk…” aku terbatuk-batuk karena banyaknya debu di dalam rumah.

“Lancang sekali kau masuk ke rumahku tanpa izin.” Seorang laki-laki datang dari kegelapan. Tubuhnya sangat kurus dan renta. “uhuk…uhuk…siapa kalian? Berani-beraninya kalian ke sini?”

“A…ayah?” tanyaku memastikan. Matanya terlihat membesar kaget. Mataku sudah bisa membiasakan di dalam kegelapan.

“ Siapa kau sebenarnya?” meskipun masih terdengar kasar, tapi ada kelembutan tersisip dalam suaranya.

“Ini Uki. Youki anak ayah.”

“Uki. Ada apa kamu ke sini? Di mana ibumu?” sekarang ayah sudah berani mendekat. Wajahnya terlihat lelah. Walaupun umurnya masih paruh baya, tapi ayah terlihat sudah tua sekali.

“Ibu…ibu sakit, yah. Ayah kemana saja? Uki bingung harus berbuat apa. Ibu menyuruh Uki ke sini untuk bertemu ayah. Entah apa yang dipikirkan ibu. Aku khawatir sekali.” Aku menangis tersedu-sedu. Awalnya, ayah ragu untuk memelukku. Tapi, akhirnya dia memelukku. Sangat hangat dan menenangkan.

“Dia selalu di sini selama ini.” Tiba-tiba ada dua orang yang tak aku kenal datang.

“Siapa mereka ayah?” terdengar nada curiga dari suaraku.

“owh…kenalkan mereka adalah Chae dan Dyne, tetangga ayah yang juga tinggal di hutan. Dyne, Chae, ini Uki anakku.”

“Salam kenal.” Kata mereka bebarengan sambil membungkuk sedikit.

“Salam kenal juga.” Balasku sambil sedikit membungkuk. “O iya, yah” aku teringat sesuatu. “Aku ke sini dengan teman-temanku. Mereka yang selalu membantuku. Ini Sine dan yang ini Sica.” Kataku memperkenalkan mereka saru per satu.

“Sore.” Apa mereka pada ayahku. Ayahku cuma balas tersenyum.

“ Nak, bukankah seharusnya kita melihat keadaan ibumu?” benar juga kata ayah. Kenapa tidak terpikirkan dari tadi.

“Tapi tuan…bukankah anda tidak boleh menginjakkan kaki ke sana oleh warga desan sana?” Tanya Chae.

“Aku akan mengambil resiko apapu. Istriku sedang sakit, aku tak mungkin terus berdiam diri di sini.” Ternyata seperti itu kenyataannya. Aku baru tahu. Kebencian pada ayahku pun sudah memudar.

“Baiklah. Apa kalian semua akan ikut?”

“Ya. Kami akan ikut.” Jawab mereka berempat. Maksutku Chae, Dyne, Sine, dan Sica. Kami keluar dari rumah dan menelusuri hutan lagi untuk kembali ke desa. Untung keadaan desa sangat sepi. Jadi, sangat mudah memasukkan ayah ke desa. Kami semua berjalan ke rumah…ku? Seperti itulah keadaan beberapa yang lalu. Ayah membuka pintu perlahan. Matanya syarat ketakutan terjadi sesuatu yang buruk. Aku melihat dari luar ibu terbujur kaku di atas ranjang. Dan tidak…bernafas? Astaga. Ibu…Aku langsung menyerobot masuk.

“Ibu…nggak mungkin. Ibu bangun. Nggak lucu. Nggak lucu banget. Ibu jangan bercanda seperti ini. Uki ngga suka!” aku mulai berteriak. Ayahku menhamipriku dan memelukku lagi. Nggak mungkin. Ini pasti Cuma mimpi. Ibu nggak mungkin ninggalin aku. Karena tidak kuat lagi, akhirnya aku jatuh pingsan

To Be Continue….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: