Posted by: Mieyonn (미언) | February 21, 2011

[RESENSI BUKU] Oyako no Hanashi, Mom vs Kids at Japan

Judul: Oyako no Hanashi, Mom vs Kids at Japan
Peresensi: Retnadi Nur’aini
Penulis: Aan Wulandari
Penerbit: Leutika

Anak terlahir dengan sejuta keingintahuan.
Mulai dari pertanyaan sederhana tentang urutan bulan dalam setahun, definisi cita-cita, waktu kadaluwarsa suatu barang elektronik, sampai pertanyaan serumit ‘cita-cita apa yang bisa membawa seorang manusia sampai ke surga.’

Aneka pertanyaan inilah yang tercetus dari seorang Syafiq Miftahurridho—anak laki-laki yang kini berusia 10 tahun dan adiknya, Shofie Amalia Diha—yang kini berusia 3 tahun. Dalam buku berjudul Oyako no Hanashi inilah, Mama Syafiq—Aan Wulandari, berusaha menjawabnya.

Dalam bahasa Jepang, Oyako no Hanashi bermakna cerita antara orangtua dan anak-anaknya. Latar Jepang pula yang menjadi episode pembuka buku ini.

Berawal dari sebuah e-mail pemberitahuan lolosnya ayah Syafiq dalam seleksi beasiswa S3 di Jepang. Dalam tempo dua minggu setelah Abah—panggilan untuk ayah Syafiq—bertolak ke Jepang, Syafiq pun menyusul bersama Mamanya.

Di Jepang, keluarga kecil ini belajar untuk beradaptasi. Antara lain, upaya adaptasi dalam rangka menghemat pengeluaran. Mulai dari menghitung kurs setiap kali belanja, naik sepeda untuk antar jemput Syafiq ke sekolah, penggunaan koyo tambal ban, sampai saat Syafiq jatuh sakit.

Tiga tahun bermukim di Jepang, keluarga kecil ini pun pulang ke tanah air dalam keadaan Mama Syafiq tengah hamil Shofie selama enam bulan. Di Indonesia, upaya Syafiq untuk beradaptasi dengan tanah airnya termuat dalam episode ke dua buku ini. Bertajuk Celoteh dari Syafiq, episode ini antara lain berkisah tentang kendala bahasa yang dialami Syafiq di sekolah, pengalaman Syafiq saat berkemah dan naik kereta, serta aneka celetukan dan pertanyaan Syafiq saat tengah mengobrol bersama orangtuanya.

Dan karena imajinasi dan keingintahuan seorang anak tak terbatas secara verbal, Shofie pun urun celoteh pada episode ke tiga. Mulai dari debat tentang warna dan ukuran pensil, identifikasi lokasi tempat belajar Syafiq dan Mamanya, sampai kemiripan antara angka nol dan huruf O.

***

“Celotehan anak benar-benar lucu, lugu, khas, juga polos, walaupun terkadang nyebelin,” papar Aan Wulandari pada pengantar buku ini. Dengan niatan merekam kekritisan para buah hatinya yang tengah berkembang, penulis pun mengelompokkan catatan aneka celoteh buah hatinya dalam suatu folder file tersendiri.

Ketelatenan Mama Syafiq ini juga tampak dari upayanya untuk menjawab pertanyaan dengan sesederhana mungkin. Mulai dari menyederhanakan soal cerita pengurangan dengan analogi balon, meluruskan kata-kata yang digunakan Syafiq—seperti misalnya: menyelam dengan tenggelam (hal 74), berawan dengan perawan (hal 76), sampai analogi gear sepeda untuk persneling mobil yang dijelaskan oleh Mama Syafiq di halaman 141 “…sepeda Syafiq ada gear-nya kan? Itu sama dengan persneling. Kalau mau menanjak pakai gigi satu. Saat jalannya kencang, pindah ke gigi tiga atau empat.”

Tak jarang, Mama Syafiq dan Abah menunggu waktu yang tepat untuk melarang penggunaan kata tertentu. Misalnya di halaman 70-71. Agar Syafiq tidak menggunakan kata ‘edan’ untuk mengutarakan kekaguman, maka saat keluarga ini bertemu orang gila yang tak berbusana di jalan, Abah pun berujar “Nah, itu dia yang namanya edan, Mas! Jangan ngomong gitu lagi, ya?”

***

Meski bertemakan diskusi antar anak dan orangtua, tak berarti setiap topik diskusi dibahas dengan kerut kening. Kerap kali diskusi berlangsung cair dan santai, dengan atmosfer demokratis.

Dan di akhir buku setebal 168 ini, tersisa satu pertanyaan besar. Pertanyaan yang juga dilontarkan oleh Rini Nurul Badariah, penerjemah novel anak klasik “Pollyanna”: “Semua orangtua mengharapkan anaknya tumbuh cerdas, bahkan melebihi ayah-ibu mereka. Tetapi siapkah para orangtua menjawab aneka pertanyaan atau komentar anak yang kritis?”

Nah, sudah siapkah kita?

Retnadi Nur’aini seorang ibu, penulis dan pemilik toko buku http://halamanmoeka.com

credit : resensibuku


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: