Posted by: girls87 | February 19, 2011

[FF/1S/PG-16] Deja Vu Under The Rain

Title : Truth  

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Cho Kyuhyun and Park Chae Rin

Other Casts : Lee Sungmin, Cho Ahra, and other

Genre : Romance

Length : 1 Shots

A/N : will be better if you read Change of Rain *click the title* before read this story

***

“Waktu berlalu begitu cepat, tiga tahun terasa sangat singkat jika bersamanya,” ujar Kyuhyun oppa di hadapan makam Ki Bum. Dia memelukku dari belakang sementara aku terdiam mendengarkan percakapan satu arah ini. “Kau benar, Ki Bum, dia wanita yang aneh,” aku memukul lengannya, sempat kulihat dia tersenyum manis. “Tapi wanita aneh ini telah membuatku jatuh cinta. Terima kasih telah membiarkanku menjaganya. Terima kasih telah memberikan jalan padaku untuk bersamanya. Dan terima kasih telah rela melihatku mencintainya.”

Kata-kata Kyuhyun oppa membuat hatiku bergetar hebat, tanpa terasa air mataku menetes membasahi lengan Kyu oppa yang melingkar di pundakku.

“Kau menangis Chae Rin?” tanya kyu oppa.

“Apa jika kubilang tidak kau akan percaya?”

“Anak bodoh,” dia mempererat pelukannya “Uljimarayo.” Aku hanya mengangguk kecil, dia menaruh dagunya di bahu kananku. “Aku telah berjanji pada Ki Bum untuk tidak membuatmu menangis. Kalau kau begini, dia bisa membunuhku.” Candanya, dan aku tergelak lemah.

“Kau tak akan dibunuh olehnya. Karena aku menangis karena dia.”

Wae?

“Aku merindukannya.”

Kyuhyun oppa terdiam. Apa ucapanku membuatnya bersedih?

“Maaf.” ujarku lagi.

Gwenchanayo.” Dia masih saja memelukiku, dekapannya hangat. Ya, dekapannya berbeda, inilah dia Cho Kyuhyun.

***

Aku baru saja sampai di rumah Kyu oppa. Aku memintanya untuk membantuku menyelesaikan tugas dosen yang deadline-nya tiga hari lagi. Dengan langkah santai aku membuka pintu kamarnya dan kudapati dia sedang berkutat asyik dengan laptopnya, apalagi kalau bukan bermain game. Dia seperti tidak menyadari kehadiranku. Aku pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Aku datang oppa.” aku mengecup pipinya.

“…”

Oppa..” aku menyentuh pipinya dengan telunjukku, dan dia tetap fokus pada permainannya. “Ah aku pulang saja deh,” aku beranjak dan dia menahan tanganku.

“Ih baru juga begitu, sudah marah.”

“Habis.. kau seperti tidak menganggapku..” rengekku kecil, dia tersenyum dan mengacak rambutku pelan.

“Tunggu di sini aku ambil makanan kecil dan minuman untukmu, kau siapkan saja data-data yang akan kita pergunakan.” ujarnya. Aku hanya mengangguk kecil dan dia pun beranjak keluar.

Aku telah menyiapkan segalanya. Tapi dia tak kunjung datang. Aaaah lama sekali.

Aku berdiri dan duduk di ranjangnya yang bersprai putih. Aku membaringkan tubuhku dan menutup mata. Dulu aku pernah melakukan ini. Setelah hujan turun di atas sekolah beberapa tahun silam. Aku membuka mata dan menatapi langit-langit yang putih bersih. Pikiranku melayang pada kenangan hari itu. Aku beranjak dan berjalan pelan ke arah meja belajar hitam yang ada di sudut kamar ini. Ada notebook putih yang sedang tertutup dan beberapa tumpuk surat. Persis. Aku menutup mata menahan pilu dan kerinduan yang mulai menggebu.

“Hai, siapapun kau yang menerima surat ini.

Boleh aku minta tolong? Jika boleh lanjutkan membaca jika tidak tolong masukkan kembali surat ini ke dalam amplop dan taruh di tempat kau menemukannya.

Terima kasih”

Halaman pertama surat dari Ki Bum, bahkan aku hafal isinya, padahal hanya sekali aku membacanya. Aku mendengar suara langkah kaki. Itu pasti Kyuhyun oppa. Aku kembali ke ranjang dan membaringkan tubuh aku kembali memejam dan memori itu kembali menyeruak. Tanpa kusadari butiran air mata telah membasahi pipiku. Ada yang menyentuh pipiku. Aku membuka mata dan kudapati Kyuhyun oppa sedang menatapku cemas.

“Kenapa? Apa kau sakit? Kau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.

“…” aku hanya dapat menggeleng lemah tanpa bersua. Dia semakin kebingungan.

“Kenapa menangis? Apa aku salah? Apa aku menyakitimu?”

“…” lagi-lagi aku hanya menggeleng dan mulai terisak lebih kencang. Dia semakin bingung.

“Chae Rin-ah ada apa denganmu? Jangan membuatku takut begini…” dia memelukku yang masih berbaring. Aku membalas pelukannya.

Mianhae..” ujarku pada akhirnya.

***

Aku baru saja keluar dari kelas filsafat dasar, aku merapikan buku-bukuku dan mendekapnya. Di depan pintu sudah ada Kyuhyun oppa yang menungguku dengan senyum terbaiknya.

“Bagaimana harimu?” tanyanya ketika mendapati aku tak jauh darinya.

“Lumayan, aku selalu suka kelas filsafat dasar. Kau?”

“Ada sedikit masalah, tadi aku ketahuan tidur di kelas kalkulus.” dia tersenyum malu.

“Makanya kalau main game jangan sampai malam jagiya…” aku mencubit pipinya.

“Hehehe, seperti tidak tahu saja..” dia mengambil buku yang kupegang dan mengamit tangan kananku. “Pulang atau makan siang dulu?” tanyanya.

“Emm.. ke toko buku dulu, baru kita makan. Ada yang harus ku beli dulu.”

“Baiklah, ayo.”

Kami berjalan menuju parkiran motor. Dari jauh sudah terlihat bahwa hujan sedang turun. aku tergelak kecil. Kyuhyun oppa menatapku bingung.

Wae? kau tidak suka hujan turun?”

“Ah, anni.. hanya saja..”

“Ada apa? Lebih baik kemarikan semua bawaanmu, dan bermainlah bersama hujan.” Kyuhyun sudah mengambil tas dari tanganku.

“A.. aku sedang tidak ingin bermain hujan.” aku menarik lagi tasku yang sempat berada di tangannya dengan cepat.

“Ada yang salah denganmu? Apa kau sakit?” dia menempelkan punggung tangannya di dahiku.

Gwenchana..”ujarku lemas.

“Kau ini kenapa hah? tumben sekali.” ujarnya lembut. aku langsung memeluknya. “Apa ada masalah?” tanyanya lagi. aku menggeleng lemah. dia mengelus punggungku. “Katakan jika memang iya. aku ada untuk berbagi senang maupun dukamu. Arra?” aku mengangguk perlahan. tanpa sadar air mataku membasahi kemeja hitamnya.

Bodoh, betapa bodohnya aku masih saja terlalu mencintai Ki Bum. Padahal sudah ada orang bodoh ini yang begitu mencintaiku.

Mianhae.

“Untuk apa meminta maaf?”

Molla.” aku melepaskan pelukan. dan menyeka air mataku.

“Kau menangis? Jangan membuatku bingung Chae Rin.” dia mulai ikut menyeka bekas tangisanku.

Oppa, dapatkah kita pergi menggunakan taksi saja? Aku takut kehujanan.”

“Kepalamu terbentur atau apa?”

“Ku mohon..”

“Tapi Chae Rin..”

Aku memegang bahunya dan berjinjit, mendekatkan wajahku ke wajahnya kemudian menutup mata. bibir kami bertemu, dia mulai memegangi leherku dan menikmati ciuman kami.

Maafkan aku oppa, hanya dengan cara ini aku bisa membungkam semua pertanyaanmu. Kau bukan Ki Bum yang akan terus memaksaku bercerita.

***

“Aku pulang..” ucapku pelan saat memasuki rumah. Aku melewati kamar Ji Hyun yang terbuka.

“Chae Rin-ah.. bukankah di luar hujan?”

“Iya.” jawabku lemah, aku sudah tahu apa yang akan dia tanyakan selanjutnya.

“Tumben sekali kau tidak basah kuyup? Kau sakit?”

Anni. Hanya sedang tidak ingin.” aku lalu melengos pergi.

Ya! Chae Rin-ah..” Ji hyun mengikutiku ke kamar. “Apa benar kau tidak apa-apa?” aku duduk di ranjang sambil menaruh beberapa buku yang kubeli dari toko buku tadi. Ji Hyun ikut duduk.

Gwenchana.

“Cepat katakan. Aku satu-satunya orang yang tidak bisa kau bohongi setelah Ki Bum.” ujarnya bangga, aku menghela napas mendengar namanya disebut. “Apa Kyuhyun sunbae berbuat sesuatu yang salah?”

“Akulah yang salah padanya.” Ji Hyun mendengarkanku dengan seksama. “Aku.. merindukan Ki Bum.. setiap melihat hujan aku selalu terbayang wajahnya, senyumnya, dekapannya, ciumannya, semua hal tentangnya. Aku, aku tahu aku bodoh, Ki Bum tak akan bisa kembali. dan aku tahu aku jahat, karena aku sudah memiliki Kyuhyun, tapi..” aku mulai membenamkan wajahku ke kedua telapak tanganku.

“Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu, tapi.. coba kau pikir di mana kurangnya Kyuhyun sunbae. Dulu dia rela menjadi Ki Bum untuk mendapatkanmu. Kau pikir itu tidak menyakitkan? kini dia selalu ada untukmu, kapan pun saat kau membutuhkannya. Aku hanya dapat mengatakan itu. Silahkan kau camkan baik-baik.” Ji Hyun memegang pundakku dan berlalu. Sempat kudengar ponselnya bedering “Yobseyo sunbae..” ujarnya dan aku tak dapat mendengar apa-apa lagi.

Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan?

***

Hari ini minggu, aku melihat jam dinding di kamarku yang menunjukkan pukul 9. Aigoo apa aku tidur terlalu larut semalam? Sepertinya tidak. kenapa aku bangun sesiang ini.

Aku mengambil ponselku di atas meja. Aneh, tidak ada telepon atau bahkan pesan. biasanya Kyuhyun oppa akan meneleponku jika dia sudah bangun. apa dia belum bangun? aku berniat untuk meneleponnya, tapi kuurungkan karena aku sedang benar-benar tak ingin bicara. maafkan aku oppa.

Hari ini benar-benar hampa. aku mandi, membereskan kamar, lalu mengerjakan tugasku hingga pukul 2 siang. aku kembali mengecek ponselku. masih tidak ada panggilan juga pesan. segera kutekan speed dial nomor 2 –yah nomor 1 punya ayah.

“Nomor yang anda tuju..” mesin penjawab? tumben sekali ponsel Kyuhyun oppa mati –atau mungkin dimatikan. biasanya aku tak pernah kesulitan menghubunginya. malah dia yang sering mengomel karena kebiasaanku yang malas men-carg handphone.

Aku memutuskan menelepon ke rumahnya.

Yobseyo..” ujar orang di seberang sana.

Yobseyo, bisa aku bicara dengan Kyuhyun?” tanyaku pelan.

“Tuan muda sedang tidak ada di rumah, Nona.”

“Dia pergi ke mana?”

“Entahlah, sudah tiga hari dia tidak pulang.”

“Apa? belum pulang? dia sama sekali tidak memberi kabar ke rumah?”

“Tidak, Nona.”

Ah ye. kamsahamnida.”

Aku menutup telepon. ke mana dia, kenapa dia tidak pulang, dia di mana, pikiranku dipenuhi oleh pertanyaan mengenainya. Aigoo aku sangat cemas.

Aku mencari nomor di ponselku, setelah dapat segera ku tekan tombol call.

Yobseyo..” ujarku saat teleponnya terangkat.

Yobseyo, Chae Rin. ada apa?”

“Ah Ra unnie, apa kau tahu di mana Kyuhyun oppa?”

“Eh? dia tidak bersamamu?”

Anni unnie.. aku cemas sekali padanya. bibi Hye bilang dia tidak pulang tiga hari ini. apa yang dia pikir sih?” aku mulai terisak.

“Chae Rin-ah gwenchana.. Uljima.. Kyuhyun pasti baik-baik saja.”

Unnie.. aku benar-benar khawatir.”

“Tenanglah, lebih baik kau cari ke tempat yang paling sering dia kunjungi. ah, coba ke apartemen Sungmin, siapa tahu dia menginap di sana.”

Ye, aku akan segera ke sana. Kamsa unnie.

Choenma, sudah jangan menangis, dia pasti tidak akan kenapa-kenapa. Maaf aku tak bisa ikut mencari si pabo bersamamu.  tapi aku akan terus berusaha meneleponnya, kalau dia sudah bisa dihubungi aku akan memberitahumu.”

Ye, gwenchana. masa iya unnie harus kembali ke Korea Cuma untuk mencarinya.”

“Ya sudah Chae Rin, aku sedang ada kerjaan ya. Bye.” telepon ditutup.

Aku yang hanya mengenakan celana pendek dan kaus tidak sama sekali terpikir untuk berganti baju. aku segera mengambil jaket dan dengan terburu memakai sandal. Aku hanya membawa ponsel dan uang. Kulangkahkan kaki keluar rumah dan berlari menuju halte.

Dua puluh menit untuk sampai ke rumah Sungmin oppa, dan dalam dua puluh menit itu pula aku diliputi harapan untuk menemukan Kyuhyun oppa. sampai di depan apartemennya aku langsung mengetuknya dengan tergesa.

“Sungmin oppa.. Sungmin oppa buka pintunya.”

“Ya sebentar.” teriaknya dri dalam. “Chae Rin ada apa?” tanyanya setelah membukakan pintu. aku langsung masuk ke dalam dan menyisir semua ruangan. “Kau cari apa Chae Rin?”

“Kyuhyun oppa.. dia tidak ada di sini?” tanyaku cepat.

“Kyuhyun? Anni. dia tidak ke sini.”

“Kapan.. Kapan terakhir kau meneleponnya?” aku mengguncang bahu Sungmin oppa.

“Dua hari yang lalu, dia bilang dia sedang bingung denganmu. Apa kalian sedang bertengkar.” aku melepaskan tanganku dari bahunya.

“Tidak, kami tidak bertengkar, tapi sepertinya dia kecewa padaku. aku duduk di sofa yang tak jauh dari tempatku berdiri.”

“Dia tidak mungkin kecewa padamu. Tenanglah..”

“Aku egois oppa.. aku bodoh..”

“Sudahlah Chae Rin..” Sungmin oppa tampaknya iba denganku.

“Aku, harus pergi, aku harus mencari Kyuhyun oppa. Kamsa, maaf membuat keributan.” aku lalu membungkuk dan berlalu.

Ke mana lagi aku harus mencarinya?

Aku telah mencari ke semua tempat yang mungkin dikunjunginya. Tempat dia latihan menyanyi, café yang biasa menjadi tempat nongkrongnya, toko buku, rumah sakit, aku bahkan sampai pergi ke kantor polisi. Aku juga mengunjungi semua rumah temannya yang aku tahu, dari mulai rumah Donghae oppa sampai rumah Seohyun –siapa tahu. tapi tetap saja hasilnya nihil. Semua usahaku tidak membuahkan hasil.

Aku berjalan gontai di pinggir sungai Han, sudah sangat bingung dan tak tahu lagi harus mencari ke mana. dan tiba-tiba saja kulihat tetesan-tetesan air mulai jatuh, aku tergelak lemah, dan segera beringsut ke tanah.

“Kyuhyun oppa.. kau di mana? maafkan aku.. aku tahu aku salah, tapi jangan menyiksaku seperti ini..” aku mulai bergumam sendiri seperti orang gila. “Oppa.. cepat kembali, aku mencintaimu.. sungguh.. aku mencintaimu..”

Kepalaku mulai pening, campuran antara kelelahan dan frustasi. ditambah air hujan yang membasahi tak kenal kompromi. Aku tahu tubuhku sudah tak kuat dan ingin rehat tapi aku bersikeras dan mulai beranjak. Saat aku mulai melangkah pandanganku kabur dan seseorang menangkapku sebelum aku tersungkur. Dan aku tak dapat mengingat apapun setelahnya.

***

Ketika pertama kali ku buka mata, yang kulihat hanyalah langit-langit kamar –yang bukan kamarku maupun kamar Kyuhyun oppa–. Ini kamar Ki Bum. aku sangat kaget mengapa tiba-tiba ada di sini. Ini benar-benar apartemen Ki Bum. aku duduk di ranjangnya. dan ketika kulihat di sekeliling ada foto-fotoku bersama Ki Bum tertempel di seluruh dinding kamar ini. bukan hanya satu-dua foto tapi beratus-ratus hingga seluruh dinding tertutup foto. aku menyusuri setiap senti dinding kamar ini, memoriku terbuka seolah aku kembali ke beberapa tahun silam –saat aku masih bersama Ki Bum.

Ini foto saat sebulan kami bersama, ini saat dia makan malam di rumah sedang bersama appa, itu saat kami kencan ke taman hiburan, semua foto yang pernah kami ambil tertempel di sini. banyak juga foto Ki Bum sendiri.

Aku mulai beringsut ke lantai, dan memeluki kedua lututku, aku terisak dalam kepiluan yang mendalam.

“Aku tak butuh ini.. aku hanya ingin Kyuhyun oppa kembali.. aku benar-benar takut kehilangannya..” Aku berteriak sejadi-jadinya mungkin tak akan ada yang mendengarku, aku tak peduli! “Kumohon oppa, Kyuhyun oppa kembalilah.. aku takut.. Kyuhyun oppa..”

Hening, tak ada jawaban sama sekali.

Dengan sisa tenaga yang kumiliki aku bangkit dan mencabuti semua foto yang tertempel di dinding itu.

“Aku tak butuh ini, aku tak butuh ini semua.. aku hanya mau Cho Kyuhyun, aku mau dia kembali.. cukup.. itu saja cukup.. aku bahkan tak butuh hujan.. aku hanya ingin Cho Kyuhyun.. cukup Cho Kyuhyun..” teriakku.

Dengan tiba-tiba ada yang memelukku. Aku tidak tahu apa aku sedang berkhayal atau apa, yang jelas tubuhnya hangat. Dia mengelus punggungku.

“Kyuhyun oppa..” ujarku parau.

“Terima kasih.”

“Kyuhyun oppa..”

“Aku di sini Chae Rin..”

“Kyuhyun oppa..” aku menangis sekeras-kerasnya, dia kembali, dia ada di sini, bersamaku, memelukku. “Jangan pergi lagi.. jangan biarkan aku sendirian..” aku memeluk tubuhnya erat seolah tak ingin melepaskannya. aku takut kehilangannya lagi, aku hanya ingin bersamanya, tidak dengan siapa pun, tidak juga Ki Bum.

“Aku janji.. maaf aku keterlaluan, aku hanya ingin memastikan cintamu..” aku malah makin terisak, pria ini.. aku tak bisa membaca jalan pikirnya. yang aku tahu hanya satu: dia mencintaiku.

“…” aku tak dapat bersua aku hanya ingin memeluknya.

Saranghae..” bisiknya pelan.

Na do..” balasku.

Aku melepaskan pelukannya, dia menatapiku dengan lembut sementara aku masih menangis karenanya. Dia menghapus air mataku dengan jemarinya. Aku mengambil tangannya yang ada di wajahku dan mulai menciuminya seperti yang pernah dia lakukan dulu.

“Chae Rin-ah..” ujarnya, aku menatapnya sendu.

“Aku mencintaimu oppa, hanya kau..” aku memegangi pipinya, mengelusnya pelan.

Aku mencium kedua kelopak matanya, hidungnya dan bibirnya. Kami berciuman lama seolah saling membutuhkan.

Kini di bawah hujan aku dan Kyuhyun oppa memiliki kenangan kami sendiri. Biarlah Ki Bum menjadi kenangan, hanya kenangan. Dan aku memiliki masa depanku sendiri bersama hujanku yang baru –Kyuhyun oppa.

-END

cr : sarahsuciaadler@SEI


Responses

  1. Smua seri ff nya nie keren chingu… T^T great!!

    • hehe…..ia..km sk nulis FF jg??bole ko klo mu d share dcini….;)

  2. ching lanjtan ff yg shinee tu ada gak… crita na kreeen

  3. Annyeong chingu!
    Q mlah bru nemu ff y ni,smua ff kmu daebak loh,,,;-)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: