Posted by: girls87 | February 19, 2011

[FF/1S/PG-16] Change of Rain

Title : Change of Rain 

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Cko Kyuhyun, Kim Ki Bum, Park Chae Rin

Other Casts : Choi Minho, Goo Hara, and other

Genre : Romance

Length : 1 Shots

A/N : will be better if you read Under The Rain *click the title* before you read this fiction.

***

Hujan masih membasahi tubuh terpuruk itu. Seorang gadis memeluk kakinya ditengah jalan. Di bawah hujan. Membiarkan dirinya dihujam butiran-butiran kasar yang biasanya bersahabat. Terisak, hanya itu yang dapat dia kerjaan.

“Pergi, sedang apa kau disitu! jangan halangi hujan dariku.” ujar gadis itu dengan kasar. Seorang pria dengan payung hitam ditangannya berusaha melindungi si gadis agar tak terjamah hujan.

“…” pria itu diam tapi tak jua beranjak dari tempatnya. Dia tahu tak ada gunanya bicara apapun dengan si gadis kini.

“Kau bodoh atau apa? Ku bilang pergi!” si gadis makin berteriak. Pria tersebut menarik tangan si gadis menyuruhnya berdiri tanpa sepatah kata. Tentu saja gadis itu memberontak dan menepis lengan pria yang menatapnya sendu. Tapi pria itu kuat sehingga si gadis akhirnya bangun dan menatap langsung wajah pria tersebut.

“Apa? Apa yang kau mau?”

“Ikut pulang denganku.”

“Tidak. Apa pedulimu? Apa yang kau mengerti tentang aku?” Pria itu menarik tubuh si gadis kedalam dekapannya “Lepaskan aku Kyuhyun sunbae.. lepaskan..”

“Menangislah Chae Rin.”

“Hujanku telah pergi. Apa kau tahu rasanya?” gadis yang di panggil Chae Rin memukul dada Kyuhyun. Semakin lama semakin melambat “Hujanku telah meninggalkanku. Apa kau mengerti?”

“…”

“Kau tidak mengerti. Kau tidak tahu.. Kau tidak merasakannya. Hujanku..” Chae Rin kembali terisak. Kyuhyun memeluk Chae Rin makin erat.

“Aku memang tidak mengerti.. tapi..” Kyuhyun melepaskan payung yang dia pegang di tangan kanan lalu memeluk Chae Rin lagi “Aku bersedia menjadi hujanmu.”

“Kau tidak akan bisa menggantikannya” Chae Rin mendorong tubuh Kyuhyun yang sedari tadi mendekapnya “Hujanku hanya satu. Kim Ki Bum bukan kau!”

“Tapi dia telah pergi.” suara Kyu meninggi.

“Sejauh apapun dia meninggalkanku. Kemanapun dia pergi. Hujanku hanya Kim Ki Bum dan akan selamanya begitu.”

“Dia pergi dari dunia ini. Apa kau belum juga bisa menerima itu? Ini sudah hampir enam bulan dan kau masih begini? Ini sudah tidak wajar.”

“Sudah kubilang, kemanapun dia pergi dia akan selamanya menjadi hujanku. Ingat kata-kataku Cho kyuhyun” Chae Rin melangkah meninggalkan Kyuhyun sementara Kyuhyun hanya dapat memandangi punggung Chae Rin yang semakin lama semakin menjauh.

Kyuhyun masih menatap jalanan yang kosong. Dia masih membiarkan tubuhnya diguyur hujan. Dia menghela napas panjang dan merentangkan kedua tangannya, menengadah membiarkan wajahnya dibelai hujan.

“Maaf.”

***

“Ji Hyun-ah” panggil Kyuhyun dan dengan segera dihamipinya.

“Ada apa sunbae? Tergesa sekali tampaknya.”

“Kau tahu kemana Chae Rin?”

“Mungkin di sungai Han.”

“Tempat dia dan Ki Bum dulu sering berdua.” gumam Kyu pelan.

“Bagaimana kau tahu?”

“Ah.. Tidak.. ya sudah, terima kasih. Aku kesana dulu.” Kyuhyun mulai berbalik.

“Sunbae..” panggil Ji Hyun.

“Ya?”

“Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Kenapa kau tiba-tiba mendekati Chae Rin?”

“Bukan apa-apa.” Kyuhyun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti dan meninggalkan Ji Hyun dalam bingung.

Kyuhyun berjalan mencari sosok Chae Rin yang sama sekali tidak terlihat. Dia menyusuri aliran sungai Han. Dan setelah berjalan jauh didapatinya Chae Rin sedang melamun. Didekatinya perlahan. Kyuhyun menutup kedua mata Chae Rin dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan yang lainnya menyentuh bahu, lengan, hingga jemari Chae Rin. Diangkatnya dan dikecupnya perlahan.

“Kau kembali.. Kau datang untukku bukan?”

“Aku datang untukmu.” mendengar suara Kyuhyun, Chae Rin meronta kemudian berbalik menghadap Kyuhyun.

Plak.

Satu tamparan keras mengenai wajah Kyuhyun. Kyu hanya dapat memegangi pipinya yang memerah dan menatap wajah Chae Rin dalam.

“Kau mempermainkanku, hah? Apa yang kau inginkan sebenarnya?”

“Aku sama sekali tidak berniat mempermainkanmu.”

“Tapi apa yang kau lakukan barusan sungguh keterlaluan. Kau pikir kau siapa?”

“Aku tahu aku bukan dia. Aku bukan Kim Kibum tapi..”

“Cukup! Aku tidak mau mendengar semua alasan konyolmu.” Chae Rin meniggalkan Kyuhyun.

***

Kenapa dia bersikap seperti Ki Bum? Kenapa dia memperlakukanku seperti Kibum? Tadi, baru saja dia melakukan apa yang sering Kibum lakukan padaku jika sedang banyak pikiran. Di tempat yang sama. Di kondisi yang sama. Lama-lama dia seperti menjadi bayangan Kibum. Tidak. Seperti apapun dia berusaha hujanku hanya satu Kim Ki Bum.

Aku melangkah dengan sebal ke rumah. Seperti biasa rumah sepi. Ji hyun sudah pulang belum ya? Ku tengok sebentar kamarnya.

“Chae Rin-ah kenapa?” tanyanya yang sedang berkutat dengan laptop putihnya.

“Tidak. Kukira kau belum pulang” ujarku sambil tersenyum “Aku masuk dulu ya..” aku bergegas ke kamar sebelum di mulai bertanya.

Aku melemparkan tubuhku ke ranjang dan menutup kedua mataku. Aku masih binggung, benarkah dia telah pergi? Benarkah dia tega maninggalkanku sendirian?

“Arrrrrghhhhhhhhhhh..” aku berteriak dengan sangat kencang. Semua berkecamuk hebat di kepalaku.

“Kau kenapa Chae Rin?” Ji Hyun tiba-tiba datang dan menghampiriku dia memelukku.

“Sekarang aku sudak tidak bisa lagi menunjukan pada semua orang bahwa aku bahagia. Bahwa aku senang. Sekarang semua orang tau aku lemah dan rapuh. Kau tahu kenapa Ji Hyun? Karena aku telah kehilangan hujanku. Aku telah kehilangan hartaku yang paling berharga.”

“Chae Rin dengar. Dulu sebelum kau bertemu dengannyapun kau sudah lemah dan rapuh. Hanya aku yang tahu itu iya kan? Tapi kau bisa bertahan.”

“Tapi sekarang aku tidak bisa..” aku makin histeris.

“Kau bukan tidak bisa. Kau hanya tidak mau.”

“Aku tidak mampu, Ji Hyun tolong jangan paksa aku.” Ji Hyun terdiam. Wajahnya tampak cemas melihatku begini. Entahlah aku tak perduli.

***

Aku tiba disekolah terlalu pagi hari ini. Bosan sekali, belum ada siapa-siapa. Dari kursiku yang langsung menghadap ke lapangan utama ku lihat pria menyebalkan itu sedang berjalan perlahan. Aku mengamatinya dengan seksama.

Dia pria tampan, gayanya juga lumayan. Tapi dia sangat berbeda dengan Ki Bum. Kibum selalu memasukkan bajunya dengan rapi menggunakan tas gendong yang disingkapkan pada sebelah bahu, jaketnya selalu tertempel di tubuhnya yang atletis dia juga jarang mendengarkan lagu. Kadang-kadang saja headset menempel di telinganya. Sedangkan dia? Bajunya dimasukkan hanya depannya saja yang belakang dibiarkan keluar tak beraturan, memakai tas selempang dan jaketnya dia singkapkan di tasnya. Tak lupa headphone bertengger di lehernya. Meskipun tidak diperhatikan Kyuhuyun dan KiBum itu berbeda. Sangat berbeda. Tapi entah apa yang merasuki Kyuhyun sehingga dia selalu mencoba menjadi Ki Bum. Dan itu mnyebalkan.

Kulihat dia sudah masuk ke gedung sekolah. Aku lalu menatap jam dinding yang ada dikelas. Masih pukul 06.30 masih setengah jam lagi masuk. Aku naik keatap sekolah. Sepi. Tentu saja.

“Kim Kibum.. Apa kau mendengarku? Aku merindukanmu..” teriakku dengan lantang.

Tidak ada jawaban. Hanya angin yang meniup lembut rambutku. Sebutir air mata melintas di pipiku.

“Bodoh aku merindukanmu.. Aku mencintaimu.. Kenapa kau tega membiarkan aku sendirian begini?”

Dan tanpa kukehendaki hujan turun menyamarkan tangisku. Aku menangis sejadi-jadinya disitu. dalam beberapa menit saja aku sudah benar-benar basah. Tapi aku tidak perduli. Aku tak peduli hari ini ada pelajaran yang harus aku ikuti. Aku tak peduli aku sakit. Aku tidak peduli apapun! Ditengah kegalauanku ada yang memelukku dari belakang. Kedua tangannya melingkar di bahuku. Dia mengecup ubun-ubunku.

“Aku mencintaimu.. jangan pernah pergi lagi.. aku takut sendirian” aku bergumam. Pelukannya sama, dekapannya sama. Ini hujanku.

Dia mengusap kedua mataku, menyuruhku memejam. Aku menurut. Dia memutar tubuhku dan mencium leherku beberapa kali. Kecupannya sama. Dia hujanku. Bibirnya naik ke pipiku. Masih sama. Dan bibirnya menyentuh bibirku. Tangannya menyentuh tengkukku. Kurasakan deru napasnya, manis bibirnya. Dan seketika kudorong dia jauh dari tubuhku. Tenaganya terlalu kuat membuatku tak mempu keluar dari lingkar tangannya. Tapi aku meronta. Dia menggigit bibirku hingga berdarah dan dia melepaskanku.

Aku menatapnya dalam diam. Dia juga melihatku tanpa kata.

Plak. Aku menampar pipi kanannya. Tapi saat tanganku masih tertempel di wajahnya dia menyenuh punggung tanganku dengan  tangan kanannya. Menggenggamnya dan mengecupnya. Dia menarikku dalam pelukannya. Aku meronta keras dia makin mendekapku.

“Aku tahu aku dan dia tak sama. Tapi kumohon belajarlah mencintaiku. Kepergiannya bisa dibilang telah lama. Tolong jangan siksa dirimu seperti ini terus. Aku juga sakit melihatmu begini. Tolong, mengertilah.. mengertilah bahwa aku mencintaimu.” aku terdiam mendengar pernyatannya.

“Kalau begitu kau egois.”

“Kau pikir dia senang melihatmu begini? Tidak, dia juga pasti akan sedih.. bukankah kau tak ingin melihatnya bersedih?”

“Kau.. jangan pernah sok tahu tentangnya.. kau itu bukan siapa-siapa.. kau tidak tahu apapun mengenaiku atau dia.” ujarku geram, aku menarik kerah bajunya –meskipun dia lebih tinggi dariku.

“Kau bahkan tidak mengenal dirimu sendiri Chae Rin.”

“Kau…” ucapanku terhenti kepalaku sakit sekali dan tiba-tba semua tersa gelap.

***

Mataku terbuka. Kepalaku masih terasa sakit. Emm, dimana aku? Aku mngingat-ingat apa yang terjadi barusan. Ah tadi ‘kan aku ada di atap sekolah bersama Kyuhyun sunbae. Kenapa aku ada disini sekarang. Dan dimana aku?

Aku celingukan, berusaha mengidentifikasi. Ini kamar yang cukup rapi dan lembut dengan didominasi warna putih sembuat kamar ini tampak tenang. Sebuah tempat tidur besar dengan sprai berwarna senada yang aku tempati ini pun tampak manis diposisinya. Disudut ruagan ada sebuah meja belajar hitam. Aku berdiri dan mendekati meja itu. Ada sebuah foto berpigura. Foto kyuhyun. Jadi ini kamarnya. Kulihat sebuah notebook putih dalam keadaan tertutup. Disebelahnya terdapat amplop yang cukup tebal. Entah perasaan apa yang menyuruhku untuk membukanya –walaupun memang tidak sopan. Ada beberapa lembar kertas yang disatukan oleh sebuah klip silver. Kusisihkan amplopnya dan segera ku baca.

“Hai, siapapun kau yang menerima surat ini.

Boleh aku minta tolong? Jika boleh lanjutkan membaca jika tidak tolong masukkan kembali surat ini ke dalam amplop dan taruh di tempat kau menemukannya.

Terima kasih”

Aku lanjut ke kertas kedua

“Terima kasih kau telah mau menolongku.

Sebelumnya aku ingin memberitahumu bahwa waktuku sudah dekat dan aku ingin kau menjaga seseorang untukku. Apa kau bersedia? Jika kau bersedia lanjutkan membaca jika tidak masukkan kembali surat ini ke dalam amplop dan taruh di tempat kau menemukannya.

Terima kasih”

Aku semakin penasaran dengan kertas-kertas ini. Segera ku buka kertas ketiga

“Terima kasih kau bersedia menjaganya untukku.

Sebelumnya aku akan bercerita sejenak boleh?

Aku memiliki seorang gadis yang sangat kucintai. Kami telah menjalin hubungan yang menyenangkan. Namun, waktuku kini telah dekat dan aku tak lagi bisa menjaganya. Menjadi hujannya.

Kau tahu kenapa hujan?

Karena dia sangat mencintai hujan. Bahkan terkadang dia terkesan lebih mencintai hujan daripada aku. Dulu sebelum bertemu denganku dia tak memiliki siapapun untuk bercerita, berkeluh kesah, menangis. Dia selalu mencitrakan diri pada semua orang bahwa dia adalah gadis ceria dan tak ada beban. Tapi itu palsu. Dia hanya tak ingin membuat orang disekitarnya cemas. Dan dia hanya menceritakan masalahnya pada hujan. Dibawah hujan dia menjadi dirinya sendiri. Di bawah hujan dia menangis. Karena itulah dia mencintai hujan.

Gadisku itu aneh bukan? Tapi karena itu aku mencintainya.

Kini, aku akan memperkenalkan dia padamu. Namanya Park Chae Rin. Dia sekarang bersekolah di Chungdamn High School kelas 2…”

Dibawahnya terdapat biografiku. Penjelasan siapa aku, apa yang kusuka, aku suka warna hitam, ice cream, sampai aku suka super juniorpun ada. Apa-apa yang aku tidak suka, aku tidak suka menunggu, aku tidak suka bau rokok hingga aku tidak suka anjing juga tertulis disitu. ada juga mengenaiku yang alergi debu dan tidak kuat kedinginan. Semua benar-benar mendetail sampai aku saja takjub dengan apa yang KiBum ketahui teentang diriku. Lalu ada paragraf baru,

“Bagaimana? Dia lucu sekali bukan? Apa kau masih mau menjaganya untukku?

Kusertakan fotonya disini.

Apa kau masih mau membantuku?

Jika kau bersedia lanjutkan membaca jika tidak masukkan kembali surat ini ke dalam amplop dan taruh di tempat kau menemukannya.

Terima kasih”

Beberapa butir air mataku telah jatuh. Aku benar-benar merindukan Ki Bum dan dari surat ini sungguh aku merasa Ki Bum sedang bersamaku. Sedang bercerita kepadaku.

Dengan tangan yang bergetar ku buka lembar terakhir.

“Terima kasih atas keteguhan hatimu. Kini aku tahu kau tulus ingin membantuku. Ku mohon jagalah hujanku. Jangan biarkan dia menangisi kepergianku. Buat dia tersenyum akan kehadiranmu.

Sekali lagi ku mohon dengan sangat. Tolong cintai dia setulus hatimu. Karena jika dia sudah mencintai seseorang dia akan menjaganya hingga waktu yang memisahkan.

Aku akan memberitahumu beberapa kebiasaannya. Agar kau lebih mudah mendapatkan hatinya. Karena dia tak akan berhenti mencintaiku. Kekeke.

Pertama jika hujan turun dia akan segera berlari menemui hujan. Menutup kedua matanya, merentangkan tangannya, dan membiarkan hujan mengguyurnya. Jika kau melihatnya seperti itu, biarkan saja, kalau kau juga suka hujan ikutlah bermain dengan hujan bersamanya. Jika tidak tunggu sampai dia menggosok lengannya. Itu tandanya dia udah kedinginan. Peluklah dia, singkapkan jaketmu agar dinginnya hilang.

Kedua jika kau lihat dia termenung entah menatap apa, itu tandanya dia sedang binggung. Peluklah dia dari belakang kecup ubun-ubunnya, tutup matanya dan ciumilah dia. Dia akan memelukmu setelahnya.

Ketiga jika kau melihatnya sedang tertawa lepas namun setelah itu dia diam dengan wajah sendu itu tandanya dia sedang sedih tapi dia tak mau mengatakannya padamu. Acak rambutnya dan dekap dia tanpa sepatah katapun, biaran dia menagis dan menceritakan sendiri masalahnya padamu. Setelah itu tenangkan dia..

Keempat…”

Ada banyak sekali kebiasaan yang KiBum sering lakukan padaku. Dan dia menuliskan semuanya disini. Kini aku tahu mengapa Kyuhyun bisa dengan samanya memperlakukanku.

“Begitulah.. aku telah menuliskan semua yang ku ketahui tentang gadisku. Kuharap kau bisa mendapatkan hatinya, mencintainya, dan menjaganya untukku.

Oh iya, jika dia telah menjadi milikmu, berikan secarik kertas yang terpisah untuknya. Biarkan dia mengetahui semuanya.

Mungkin berjuta-juta berimaksih tak akan cukup untuk ketulusanmu. Tapi sekali lagi terima kasih

Kim KiBum”

Derai tangisku mulai tak terkendali. Isakku mulai tak dapat ku tahan. Aku masih penasaran dengan surat yang ditujukan untukku. Aku mulai mengambil kertas itu. Tapi kudengar langkah kaki mendekat. Cepat-cepat ku bereskan surat surat Ki Bum dan aku berbaring di ranjangnya, menutup mataku seolah aku belum bangun.

Aku tak dapat melihat siapa yang datang. Tapi aku yakin dia adalah kyuhyun. Kurasakan langkah ittu makin medekat. Ia –yang kupikir adalah kyuhyun duduk disebelahku. Kurasakan napasnya di pipi kananku. Jantungku berdebar kencang sekali. Lalu jemarinya mulai menelusuri wajahku, dari dagu, ke pipi naik ke keningku, ke hidungku ke kelopak mataku. Kurasa dia menyadari aku habis menangis, dia menyeka sisa-sisa airmataku. Dan dengan perlahan kubuka mataku. Dia agak kaget tetapi langsung tersenyum ke arahku.

“Maaf kita jadi bolos hari ini..” ujarnya.

“Tidak apa-apa, salahku juga.”

“Oh ya, bajumu.. kakakku yang menggantikan, itu juga miliknya.” dia sedikit canggung.

“Terima Kasih.” dia terseyum dan menggaruk lehernya.

“Kau, sudah tidak galak lagi padaku?”

“Tergantung.”

“Maksudnya?”

“Kalau kau masih mengimitasi Ki Bum mungkin aku akan marah lagi padamu.” dia tampak binggung.

“Chae Rin.. apa kau bercaya cinta pada pandangan pertama?”

“Ya aku pernah mengalaminya. Kenapa?”

“Itu yang terjadi padaku saat pertama kali aku melihatmu.”

“Kapan kau pertama kali melihatku?”

“Dua tahun yang lalu.. sebulan setelah kau masuk ke Chungdam, saat kau sedang bermain dengan hujan.”

Apa? Jadi dia sudah melihatku sejak itu? Bahkan saat aku belum bertemu dengan KiBum

“Kalau begitu.. jadilah dirimu sendiri. Tunjukan bahwa yang mencintaiku itu Cho Kyuhyun bukan Kim Ki Bum.”

***

“Pagi.. Naik” Kyuhyun sudah tiba di depan rumahku pagi ini.

“Menjemputku ke sekolah?”

“Yup, dengan caraku.”

Dia menyerahkan helm dan menyuruhku naik ke motor besarnya. Yah ki bum memang selalu menjemputku sengan mobil.

“Peluk aku..” perintahnya.

“Apa?”

“Peluk aku.”

“Tidak mau.. ayo sana jalan.”

“Yasudah, hati-hati jatuh ya..” ia membawaku kebut-kebutan di jalan, serasa setiap jalan ini miliknya. Dan dalam beberapa menit saja

kami sudah sampai.

“Kau ini..” ujarku, dia malah memamerkan senyum terbaiknya.

“Sekali-sekali, refreshing..” dia merapikan poniku yang berantakan. Wajahnya lembut sekali memancarkan ketulusan.

“Kyuhyun sunbae..”

“Apa?” aku lalu mencium pipinya dan berlari meninggalkannya sendirian. Sempat ku lihat dia memegang pipinya tidak percaya.

***

Bel pulang sekolah berbunya bersamaan dengan turunnya hujan. Aku hanya menatap hujan sambil tersenyum. Aku lalu turun untuk pulang. Ku lihat orang-orang berteduh menunggu hujan berhenti, atau sibuk mengeluarkan payung. Tanpa mempedulikan mereka aku berjalan dibawah hujan dengan sangat lambat. Baru sampai gerbang sekolah saja aku sudah kuyup. Aku tetap berjalan keluar dari sekolah.

Sesampainya di depan rumah sudah ada yang menungguku.

“Menyenangkan bermain hujan?”

“Selalu. Ada apa kau kemari?” dia turun dari motornya dan mendekatiku. Hujan masih menemani kami.

“Aku hanya ingin minta izin.”

“Izin apa?”

“Izinkan aku mencintaimu..” bisiknya ditelingaku.

“Aku..” dia memelukku sebelum aku menyelesaikan perkataanku.

“Rasakan.. pelukanku berbeda ini aku, Cho Kyuhyun.” dia mencium leherku “Rasakan kecupanku berbeda ini aku, Cho Kyuhyun.” dia mencium bibirku dengan kasar “Rasakan ciumanku berbeda ini aku Cho yuhyun. Bukan Kim KiBum.” aku menangis. Aku membalas pelukannya.

“Maaf…”

“Kenapa menangis? Apa ku menyakitimu?”

“Tidak.. maafkan aku aku yang bodoh karena buta akan ketulusanmu.. maaf.”

“Tak perlu minta maaf.”

“Tapi aku sudah jahat sekali padamu..”

“Tidak apa-apa sudah jangan menangis.”

“Sunbae. Maukah kau mengajariku?”

“Mangajari apa?”

“Cara mencinta dengan caramu.”

“Tentu saja…” dia memelukku lebih erat “Aku mencintaimu.” Ujarnya aku hanya dapat tersenyum tanpa menjawab pernyataannya. Dia tersenyum dan berbisik di telingaku. “Tidak perlu dijawab, karena kau masih dalam tahap belajar.” dia mengecup bibirku singkat kemudian memelukku lagi.

“Ah aku punya sesuatu untukmu.” ujarnya dan dia mengeluarkan secarik kertas. Surat Ki Bum untukku. Aku mengambilnya dan memasukkannya ke dalam tas yang memang anti air.

“Akan ku baca nanti. Bukankah aku kini sedang belajar?”

“Hatchi..” dia bersin, sepertinya dia jarang bertemu hujan.

“Hahaha, ayo masuk sunbae, kau pasti kedinginan.”

“Panggil aku oppa.”

“Cepat masuk kyuhyun oppa.”

“Kau cepat belajar.” dia merangkulku masuk kedalam rumah.

***

Park Chae Rin gadis hujanku…

Sudah bertemu hujanmu?

Dia kukirimkan khusus untuk menjagamu. Semoga kau menyukainya. Karena kurasa dia sangat tulus mencintaimu. Maaf jika aku membuatnya menjadi sepertiku. Kau pasti sangat terganggu akan hal itu. Tapi aku yakin itu meluluhkanmu. Ya, akulah yanhg mengajarinya menjagamu, mengerti akanmu. Kalau dia mmang melakukan persis apa yang aku lakukan itu berarti dia rela menjadi aku demi permintaanku untukmu. Dan dengan itu pula kita tahu bahwa cintanya bukan main-main.

Maaf aku tidak bisa menjagamu, tidak bisa menemanimu hingga kita menua. Itu bukan aku yang menginginkannya. Tai pasti kita akan bertemu lagi di surga. Aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu.

Apa kau masih mencintai hujan? Aku yakin masih. Demi hujan, maukah kau berjanji padaku?

Jangan pernah berpikir untuk melupakan aku karena aku mencintaimu, aku mencintaimu sekali lagi aku mencintaimu. Dan setiap hujan turun, saat kau sedang senikmati setiap tetesannya, berjanjilah kau akan selalu mengenangku. Menganggap bahwa aku ada bersamamu di tengah hujan. Maukah kau berjanji demi hujan yang paling kau cintai? Terima kasih jika iya.

Kini biarkan dia menjadi hujanmu. Menggantikan posisiku untuk mendengar semua masalahmu dan membangkitkan senyummu. meski begitu hatimu selamanya milikku.

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Terlalu banyak kata cinta yang ingin ku ungkapkan padamu. Dan kertas ini tak mampu menampungnya. Aku yakin kau tahu bahwa cintaku sebanyak tetesan hujan yang kau nikmati.

Hujanmu,

Kim Kibum

-END

cr : sarahsuciaadler@SEI


Responses

  1. Kyaaa bagus chingu crta nya T^T so sweet tp jg menyedihkan T^T


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: