Posted by: girls87 | February 19, 2011

[FF YAOI SHINee ONESHOT] PENDING MESSAGE

Main Cast: Pairing OnKey

Cast:

* Miss-A Min
* Tiara Eunjung
* Choi Minho
* Kara Gyuri
* Kim Jonghyun

Rating: PG 15

Genre: Romance

Author: Kim JongGey

Selalu! Pesanku sebelum kalian membaca FF YAOI adalah.. anggap saja kalian sedang berada di dunia dimana tidak ada perbedaan gender. Namja berpasangan dengan namja adalah hal yang biasa di dunia ini. Tapi bukan berarti namja menyukai yeoja adalah hal yang dilarang didunia YAOI..

RCL please..

Jinki POV

***

Rumah lamaku. Warna dindingnya tidak seputih dulu. Pada beberapa sisi bahkan catnya sudah terkelupas. Lantai teras penuh dengan daun kering berserakan, angin membuatnya berkumpul didekat kursi yang sudah berkarat. Tak ada tanda kehidupan. Tak ada yang merawatnya lagi.

***

Sudah beberapa hari ini kau sering memimpikan rumahku yang dulu. Sudah berapa tahun aku tidak melihatnya? Tujuh tahun setengah? Delapan tahun? Yang pasti sudah cukup lama.

Terakhir kali aku melihat rumahku saat aku lulus SMA. Aku tumbuh besar disana, aku bahkan lahir disana. Sedikit merindukan rumah lamaku memang… Agak menyedihkan melihatnya tidak terawat dalam mimpiku.

Aku mengambil kopi dan meneguknya sedikit. Masih panas. Kutaruh kembali gelas kopiku dimeja makan dan kugosokan rambut basahku dengan handuk. Aku selalu sarapan hanya dengan segelas kopi. Aku tidak bisa memasak. Umma bilang jika aku sudah menikah maka aku bisa sarapan minimal dengan telur mata sapi. Sebenarnya..memang sudah berniat untuk melamar yeoja yang sudah menjadi pacarku selama dua tahun ini. Aku sudah menyiapkan cincinnya. Tapi entah mengapa selalu kuurungkan niatku.

Satu minggu yang penuh rencana. Mulai dari merencanakan melamarnya saat makan malam, hingga rencana melamarnya saat menonton bioskop. Awalnya selalu berjalan dengan lancar. Tapi berakhir dengan keragu-raguanku mengeluarkan cincinnya, sehingga aku mengurungkan niatku.

Kurogoh saku celanaku dengan tangan kiriku, tangan kananku mengendalikan setir. Kuambil kotak cincin dari dalam saku. Cincin yang indah. Kuyakin setiap yeoja pasti akan menyukainya.

Hari ini harus berhasil. Aku tidak mau sendirian di apartemenku. Mengapa melamar seseorang begitu membebani hidupmu?

Drrrttttt…ddrrrrrrrtttttttttt…

Kutepikan mobilku. Berbahaya apabila menelefon sambil menyetir bukan? Aku tidak mau mengambil resiko.

Eunjung calling?

“Ne yoebo??”

“Mwo? Kau di Incheon?”

“Temanmu menikah?”

“Ne..arraso..”

Haahhhh…apa rencanaku melamarnya gagal lagi hari ini? kenapa tiba-tiba temannya menikah? Apa aku susul saja ke Incheon? Tidak terlalu jauh kan? Mungkin dengan mengejutkannya akan sedikit lebih romantis.

Aku kembali menjalankan mobilku. Tujuan berikutnya, Incheon.

Satu setengah jam perjalanan. Aku agak ngebut. Kini aku sudah berada di daerah Incheon. Kulihat plang tanda aku sudah memasuki daerah Incheon. Tidak banyak berubah, hampir sama seperti terakhir kali aku melihatnya, delapan tahun yang lalu.

Incheon. Kota kelahiranku.

Kupelankan mobilku. Aku sedang melewati daerah perumahan dimana aku tinggal dulu. Kulihat daerah ini banyak berubah, lebih tertata rapih.

Kuinjak gas lebih dalam setelah melewatinya. Aku harus segera bertemu Eunjung. Dimana pernikahannya? Eunjung tidak memberitahuku.. tidak mungkin aku menelefon dan bertanya padanya. Tidak akan menjadi kejutan. Aisshhhhh!! Pabo! Aku menyusul seseorang yang aku tidak tahu keberadaannya.

Aku teringat kembali rumahku.. aku sudah berada di Incheon. Aku memutar balik mobilku. Lebih baik aku menengok rumah lamaku saja.

Masih bisa kuingat dengan jelas arah menuju rumahku. Aku menghentikan mobilku. Kupandangi rumahku yang dulu dari dalam mobil. Sama persis seperti dalam mimpiku. Warna dindingnya tidak seputih dulu, bahkan catnya sudah terkelupas. Lantai teras penuh dengan daun kering berserakan, kursi yang berada diteraspun sudah berkarat.

Dok dok dok

Seorang yeoja mengetuk kaca jendela mobilku. Rambutnya pendek sebahu, manis. Kuturunkan kaca jendela mobilku.

“Ne??” tanyaku.

“Mobilmu menghalangi, akan sulit bagi kami untuk memasukan mobil kami ke garasi..bisa kau maju sedikit?” pintanya. Dia menunjuk mobilnya yang ada dibelakangku. Kulihat dari kaca spionku, mobil sedan hitam itu masih menyala, ada seseorang didalamnya.

“ohh..ne..” aku menghidupkan kembali mobilku dan memasukannya ke garasi rumah lamaku. Yahh..ini lah salah satu alasan mengapa kami pindah. Jalannya sempit.

Kuperhatikan mobil sedan hitam itu memasuki rumah di depan rumahku. Bukankah itu rumah Min? apa yeoja tadi itu Min?

Yeoja tadi berlari kearahku, dia hendak mengetuk kaca jendelaku tapi sudah kuturunkan terlebih dahulu.

“Padahal kau tidak perlu masuk ke garasi ini, kau cukup maju sedikit..” dia gak menunduk, untuk mengimbangi tinggiku.

“Gwenchana..aku memang ingin melihat-lihat rumah lamaku..”

“Jinki oppa??” tanyanya.

“Bukankah kau Min?” aku balik bertanya. Kami tertawa.

“Seharusnya aku sudah mengenalmu dari matamu yang sipit..” aissshhh yeoja ini, baru bertemu sudah berani meledekku.

“Kau juga Min..tidak bertambah tinggi? Tinggimu tetap sama seperti delapan tahun yang lalu..bukankah saat itu kau masih SMP? Seharusnya kau sudah kuliah sekarang, dan kau sudah bertambah tinggi seharusnya..” aku balas meledek. Min memanyunkan bibirnya, dia mengepalkan tangannya dan mengayunkannya kearahku.

“Ahahahah..kau tidak banyak berubah Min..” aku menutup kaca jendelaku dan keluar dari mobilku.

“Kau mau masuk kedalam rumahmu?” tanya Min.

“Ahni! Aku tidak membawa kunci rumahku..aku hanya ingin melihatnya dari luar saja..” jawabku.

Bip!

Aku mungunci mobilku. Kulihat rumahku tampak seram dari dekat, seperti rumah hantu.

“Oppa, kau mau berkunjung kerumahku? Akan kubuatkan kau jus..kau lelah kan?” Min menaiki anak tangga didepanku sehingga membuatnya lebih tinggi, tapi tetap tidak lebih tinggi dariku.

“Jus?? Sepertinya segar..” jawabku. Aku menaiki anak tangga yang sama, sehingga aku semakin lebih tinggi darinya. Kulihat Min menyipitkan matanya, dia kesal.

“Umma dan appa sedang ada dirumah..mereka pasti terkejut jika melihat namja yang sering mencuri tomat dihalamannya..”

“Mereka masih ingat?? Kalau begitu aku pulang saja..” aku hendak membuka pintu mobilku tapi Min menahannya.

“Ayolah oppa..aku hanya bercanda..”

“Kalau begitu aku mau dua gelas jus.. dan ayam goreng.. aku lapar..”

“Hanya itu permintaan terakhirmu sebelum dihukum umma dan appa??”

“Kalau ini permintaan terakhirku.. aku mau ayam goreng yang ada di seluruh korea..”

“Ayam goreng belum pergi dari otakmu oppa??” Min menjitak kepalaku.

“Aaoowww..” jitakannya cukup keras. Kepalaku sakit.

“Ayo oppa..” Min menuntun tanganku menuju rumahnya.

Aku memasuki halamannya.. ahjussi masih gemar menanam pohon tomat dihalamannya. Tomatnya sudah matang, warna merahnya seperti menantangku untuk memetiknya.

“Aigoo..Kenapa kau lama sekali..” seorang namja keluar dari dalam rumah Min. Melihatnya sempat membuatku menghentikan nafasku.

Kibum. Dia tidak banyak berubah.

Kibum pun sepertinya terkejut bertemu denganku. Bagaimana dia bisa berada dirumah Min?

“Ah! Jinki oppa..perkenalkan..ini..”

“Kami sudah kenal..” jawabku.

“Benarkah??”

“Kami satu SMA..” aku tersenyum pada Min.

Aku duduk di meja makan, berbincang dengan paman dan bibi. Aku bisa melihat jelas kearah dapur dari tempat dudukku. Min dan Kibum sedang membuat Jus. Hubungan mereka sepertinya sudah sangat dekat. Kibum lebih tua dari Min..apa mereka pacaran? Setahuku Kibum berpacaran dengan Jonghyun. Hhhhh.. Itu delapan tahun yang lalu, semuanya bisa berubah kan?

“Kapan kau menikah?? Usiamu sudah cukup untuk menikah bukan??” bibi menanyakan sesuatu yang membuatku kembali teringat pada Eunjung. Melihat Kibum aku menjadi lupa akan Eunjung.

“Aku..sedang akan melamarnya bi..”

“Benarkah?? Kalau begini aku juga sudah tidak sabar ingin menikahkan Min..” apa? Apa Min akan menikah dengan Kibum? Aku melihat kearah dapur, Min sedang menyuapkan stroberi kemulut Kibum.

“Chaggy..Min masih muda..” paman tampaknya tidak setuju dengan rencana bibi. Syukurlah.

“Tidak apa-apa..untuk yeoja dia sudah cukup umur..” bibi tetap mempertahankan keinginannya.

Min datang dari arah dapur dengan membawa nampan berisi beberapa gelas jus stroberi.

“Ini untuk appa..umma..” Min menaruh gelas didepan bibi dan paman dengan hati-hati.

“Gomawo..” paman meminumnya.

“Ini untuk Jinki oppa..” Min memberikanku dua gelas jus stroberi. Ahahah..yeoja ini mendengar dengan baik.

“Gomawo..” Min menaruh nampannya dikursi yang tidak terisi.

Kibum datang dengan membawa dua gelas jus ditangannya. Dia memberikan satu gelas kepada Min dan menyimpan sisanya diatas meja kemudian dia duduk di kursi, di depan Min. Di depanku juga, hanya agak sedikit lebih ke kiri.

“Kibumie..” bibi memanggil Kibum dengan sebutan kecilnya.

“Ne??” Kibum meminum jusnya.

“Kapan kau siap menikah?” pertanyaan dari bibi membuatnya langsung tersedak.

“Umma! Jangan tanyakan itu..” Min memanyunkan bibirnya lagi.

“Kalau begitu kapan kau siap menikah Min??” tanya bibi kepada Min.

“Chaggy..” paman berusaha menghentikan pembicaraan ini.

“Jangan tanyakan hal itu juga padaku..kenapa umma selalu bertanya kepada setiap orang kapan mereka akan menikah..” jawab Min.

“Karena aku ingin kau cepat menikah.. Jinki pun akan menikah dalam waktu dekat ini..dia sudah akan melamar pacarnya..” bibi memberitahu rencanaku untuk melamar? Aissshh..kenapa dia harus mengatakannya di depan Kibum.

“Mwo?? Benarkah itu oppa??” tanya Min. Kulirik sedikit kearah Kibum. Dia memandangiku tidak percaya dengan apa yang dikatakan bibi. Kenapa kau seperti kecewa? Bukankah kau juga akan menikah dengan Min?

“Ah..sepertinya aku meninggalkan buku Min dimobil..akan kuambilkan dulu..” Kibum beranjak dari tempat duduk. Langkahnya cepat sekali, seperti tergesa-gesa.

“Jinki? kudengar kau satu SMA dengan Kibum..” akhirnya bibi tidak membicarakan pernikahan lagi. Tapi tetap saja aku tidak suka dia membicarakan Kibum.

“Ne” jawabku singkat.

“Apa Kibum sudah pandai bermain piano sejak SMA? Dia pandai sekali bermain piano..”

“Kami satu ekskul saat SMA..kami mengambil ekskul musik..piano..” jawabku.

“Kibum oppa bahkan bisa mengajariku piano lebih baik dari guru privat pianoku yang sebelumnya..aku akan turut mengisi pertunjukan musik klasik minggu depan” Min terlihat bangga sekali.

“Kibum guru privatmu??” tanyaku.

“Ne”

“Kukira dia namjacingumu..”

“Ahniyo oppa.. ahahha..bagaimana bisa kau berfikir seperti itu?” apa? Bukan pacar Min?

“Ahni..hanya saja..”

Kibum kembali dengan membawa sebuah buku.

“Min yang..ini buku yang akan kupinjamkan..pelajarilah dengan baik malam ini..” Kibum memberikan bukunya pada Min.

“Ne oppa”

“Aku ada urusan mendadak..sepertinya aku harus pulang lebih cepat..” Kibum melihat jam tangannya.

“Kau bahkan belum menghabiskan jusmu Kibumie..” bibi menahannya pulang, entah kenapa aku juga ingin menahannya agar tidak pulang.

“Mianhe bi..benar-benar urusan mendadak..” Kibum tersenyum kepada bibi dan paman.

“Baiklah kalau begitu..hati-hati dijalan..” aku ingin sekali berdiri dan menahannya tetap disini.

“Annyeong..” Kibum pergi. Dia melambaikan tangannya sekali kemudian berlari keluar rumah.

Hatiku tidak tenang saat Kibum pergi. Bagaimana jika aku tidak bisa bertemu dengannya lagi?

“Aku lupa..aku juga harus segera pergi..” aku menghabiskan jusku oneshot sebelum berdiri.

“Kenapa hari ini semua orang tampak tergesa-gesa..” keluh paman.

Aku berdiri kemudian membungkuk. “Kamzahamnida bibi..paman..Min..aku benar-benar harus pergi..”

“Eh tapi..” Min mencoba mencegahku. Aku buru-buru pergi, menyusul Kibum.

Kulihat Kibum sudah memundurkan mobilnya keluar dari garasi. Aku berlari menghapiri mobilnya tapi dia sudah menancapkan gasnya. Aku berlari menuju mobilku. Kubuka mobilku dan kupasang sabuk pengamanku dengan tergesa-gesa kemudian kunyalakan mobilku.

Aku sudah kehilangan jejaknya. Aku tidak melihat sedan hitam didepanku. Tuhan, aku tidak ingin kehilangannya lagi kali ini.

***

Flashback

“Kudengar sebenarnya Kibum menyukaimu..” Minho membisikiku.

“Apa maksudmu? Kibum dan Jonghyun berpacaran kan?” aku balas berbisik. Kami sedang mendengarkan pidato kelulusanku.

“Aku tidak yakin mereka pacaran..aku rasa mereka hanya dekat saja..”

“sssttttt!!!” seseorang menyuruh kami diam. Minho sudah berbisik, hanya saja suara bassnya tetap terdengar meski berbisik.

Minho tidak menggubrisnya dan tetap berbisik kepadaku. “Bukankah Kibum selalu mau saat kau ajak kencan? Aku rasa dia sudah memberimu sinyal..”

“Aku tidak yakin..” jawabku.

“Tapi..”

“Sssstttt!! Bisakah kalian tidak berisik?” bahkan siketua OSIS Park Gyuri menyuruh kami untuk diam. Dan akhirnya kami terdiam.

//

“Mwo?? Aku diterima??” aku tidak mempercayai berita yang disampaikan umma, aku diterima di universitas favoritku.

“Ne..appa sudah mendapatkan rumah baru di dekat universitasmu..disana lingkungannya lebih ramah..”

“Kita akan pindah sekarang?? Bukankah umma bilang tahun depan?” kami akan pindah.. hal pertama yang kupikirkan adalah.. aku tidak akan bertemu Kibum lagi..

“Lebih baik sekarang..lagi pula kau akan kuliah.. daripada kau tinggal di asrama..” yang ada dipikranku saat ini hanyalah bagaimana jika aku tidak bisa bertemu dengan Kibum lagi.

Aku ambil jaketku dan kupakai sepatuku. Aku kembali kesekolah. Menemui Kibum. Jika hari ini hari terakhirku bertemu dengannya, aku akan menyatakan perasaanku padanya.

Aku mencarinya di ruang klub musik. Dia tidak ada. Sekolah belum sepi. Masih ada anak OSIS yang sedang rapat. Aku memutuskan untuk memberinya pesan agar menemuiku diruang klub musik.

Kusenderkan punggungku didinding dan kuturunkan tubuhku perlahan hingga aku terduduk dilantai. Aku lelah sekali sudah berlari kemari. Aku mulai membuka handphoneku dan mengirim pesan kepada Kibum.

To: Kim Kibum

Bisakah kita bertemu di klub musik sekarang?? Ada yang ingin kubicarakan.

Send.

Aku terus menunggunya di klub musik. Aku memainkan piano salama menunggunya. Sudah beberapa jam aku disini, Kibum belum juga datang. Dia bahkan tidak membalas pesanku.

Bosan memainkan piano, aku duduk didekat jendela. Dari sini aku bisa melihat gerbang sekolah, aku bisa melihat orang yang masuk dan keluar gerbang. Langit sudah merah. Aku akan menunggu sebentar lagi.

Sekarang langit sudah gelap. Kunyalakan lampu ruangan. Dan aku kembali duduk didekat jendela. Terus mengawasi gerbang sekolah, mengawasi sesosok namja yang aku tunggu datang dari gerbang itu.

Sudah jam sembilan malam. Sampai kapan aku harus menunggu?

“Apa ada orang?” Gyuri masuk ke ruang musik.

“Ne..aku..” jawabku.

“pantas saja lampunya menyala..sedang apa kau disini?”

“Mengenang ruangan ini..” jawabku.

“Belum bisa lepas huh? Kita harus segera pulang..gerbang akan dikunci..”

Aku melihat kearah gerbang sekali lagi. Memang sepertinya Kibum tidak akan datang.

“Ne..” aku melangkah menuju pintu.

Kulihat kembali ruang musik ini untuk yang terakhir kalinya sebelum aku menutup pintu. Kututup pintu ruang musik. Sama seperti aku menutup hatiku untuk Kibum.

***

Sambil menyetir aku terus memperhatikan kiri dan kananku, siapa tahu Kibum berbelok. Aku terus mengikuti arah keluar dari perumahan ini.

Ketemu!

Untung saja ada antrian mobil yang akan menyebrang sehingga jalan agak sedikit macet. Mobil Kibum tepat berada didepanku saat ini.

Aku terus mengikutinya. Menempel ketat mobil Kibum.

Kibum menepikan mobilnya. Dia tahu aku mengikutinya. Aku menepikan mobilku di depan mobil Kibum.

Kibum keluar dari mobilnya dan mengunci pintu mobilnya kemudian mendekati mobilku. Aku turun dari mobilku, tapi Kibum memberikan isyarat kalau dia akan masuk ke mobilku. Kibum membuka pintu penumpang dan masuk kedalam mobilku. Aku masuk kembali kedalam mobilku.

“Kenapa kau mengikutiku?”

Aku terdiam menatap wajahnya. Aku tidak tahu jawaban untuk pertanyaannya barusan. Kenapa aku harus mengikutinya?

“Apa kau akan mengundangku ke pernikahanmu?” mata kibum merah, seperti habis menangis.

“Pasang sabuk pengamanmu” aku memasang sabuk pengamanku kemudian menghidupkan mesin mobilku.

“Kau akan membawaku kemana? Aku membawa mobilku sendiri..” aku tidak menghiraukan protes Kibum dan terus menginjak gas. Kibum akhirnya terpaksa memasang sabuk pengamannya.

“Kau tidak datang..” aku terus menyetir, pandanganku terus kejalan.

“Aku tidak bisa datang..” jawabnya.

“Kenapa kau tidak pernah membalas pesanku?”

“Aku membalas..hanya saja terus pending..” aku mengganti gigi dan menginjak rem. Lampu merah.

“Aku terus menunggumu hingga malam” aku menatap matanya. Matanya terus berkedip dan mengalihkan pandangannya seperti terganggu dengan tatapanku.

“Aku balas pesanmu, aku tidak bisa datang..”

“Aku tidak menerima balasanmu”

“Baiklah! entah ini salahku atau bukan anggaplah ini salahku..aku membalas pesanmu tetapi tetap pending..aku terus mengirim pesan yang sama hingga akhirnya semua pesan itu gagal..aku juga sulit mendapatkan sinyal untuk menelefonmu..mungkin karena aku sedang berada dirumah sakit..aku tidak bisa menemuimu karena umma masuk rumah sakit..” lampu hijau menyala setelah penjelasan Kibum selesai. Aku kembali mengoper gigi dan menginjak gas.

“Keesokan harinya aku mencoba untuk menelefonmu tapi nomormu sudah tidak aktif..”

“Aku..mengganti nomorku..aku kira kau memang berpacaran dengan Jonghyun..”

“Semua orang tahu Jonghyun sahabatku..”

“Apa kau akan datang jika ibumu tidak masuk rumah sakit?”

“Tentu saja aku akan datang..aku selalu datang setiap kali kau menyuruhku datang..” Kibum memalingkan wajahnya keluar jendela.

Kami diam. Kami tidak berkata apa-apa lagi. Aku terus memikirkan perkataannya. Sebenarnya ini salah siapa?

Aku tidak bisa berfikir jernih sambil menyetir. Aku menepikan mobilku dan mematikan mesinnya. Kulihat Kibum masih menatap keluar jendela.

“Apa kau ingin aku menikah? Aku akan melamar eunjung hari ini..”

“heuh..eunjung..” dia terus menatap keluar jendela.

“Kibum? Kau ingin aku melanjutkan melamarnya atau tidak??” Kibum akhirnya menatapku. Matanya sudah berair.

“Kau pikir aku mau kau menikah dengan eunjung?? Kau pikir kenapa aku terus menunggumu sampai saat ini? pertanyaanmu benar-benar bodoh Jinki..” Kibum sudah meneteskan air matanya.

Aku menangkup wajahnya dan mengecup bibirnya lembut. Kutatap matanya dalam, dia tampak terkejut.

“Orang yang selama ini aku cintai..hanya kau Kibum..” air mata Kibum semakin deras. Aku memeluknya erat, membiarkannya menangis dipelukanku.

“sepertinya orang yang akan kulamar hari ini adalah kau Kibum..” aku mengambil kotak cincin dari saku celanaku. Rasanya berbeda saat aku mengambilkannya untuk Kibum. Tanganku ringan, tidak ada beban sedikit pun.

“Aku tidak mau”

“Mwo?? Aku kira kau juga mencintaiku??”

“Aku tidak mau cincin itu.. kau memikirkan eunjung saat membelinya bukan?? Belikan aku cincin yang baru..kemudian kembalilah untuk melamarku..”

“Baiklah..besok aku akan kembali dengan cincin yang baru..”

“Kau juga harus sudah memberitahu eunjung tentang hal ini..bicaralah baik-baik..jangan sampai dia terluka..”

“Arraso..” Aku mengecup keningnya kali ini.

~ THE END ~

cr : rie@SEI ( shawolandelfindo.wordpress.com)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: